Studi Kunjungan Mahasiswa IPII UIN Mahmud Yunus Batusangkar ke SLBN Center Payakumbuh: Mendorong Perkembangan Perpustakaan Inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus

oleh | Des 9, 2021 | Pengabdian, Seputar FUAD | 0 Komentar

Payakumbuh, 9 Desember 2021 – Mahasiswa angkatan tahun 2021 jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam (IPII) Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar melaksanakan studi kunjungan ke Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Center Payakumbuh pada hari Kamis. Kegiatan ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami lebih dalam tentang pentingnya perpustakaan inklusif yang dapat menyediakan bahan bacaan bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Studi kunjungan ini juga menjadi ajang bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung implementasi perpustakaan yang dapat mengakomodasi kebutuhan pendidikan bagi anak-anak dengan berbagai jenis disabilitas.

Perpustakaan inklusif, sebagai bagian dari upaya mencerdaskan anak-anak bangsa, memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan kesempatan yang setara bagi semua anak untuk mengakses informasi dan bahan bacaan yang dapat mendukung proses pembelajaran mereka. Mahasiswa IPII yang melakukan studi kunjungan ini berkesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana SLBN Center Payakumbuh telah mengelola perpustakaannya agar dapat diakses oleh anak-anak dengan disabilitas fisik maupun intelektual.

Dosen Pengampu sekaligus Ketua Kegiatan ini Sri Wahyuni, M.IP dalam sambutannya menyampaikan tujuan dari “‘Studi kunjungan ini, mahasiswa IPII tidak hanya mendapatkan wawasan teoritis tentang pentingnya perpustakaan inklusif, tetapi juga pengalaman praktis yang dapat mereka terapkan di masa depan. Saat ini kita semua menyadari bahwa perpustakaan bukan hanya sebagai tempat penyimpanan buku, melainkan juga sebagai sarana yang sangat vital dalam menciptakan akses pendidikan yang lebih adil bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang memiliki disabilitas”.

SLBN Center Payakumbuh telah mengembangkan koleksi buku yang tidak hanya berfokus pada buku pelajaran umum, tetapi juga menyediakan bahan bacaan yang ramah bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Buku-buku tersebut dirancang dengan memperhatikan berbagai kebutuhan anak-anak, mulai dari buku dengan gambar-gambar yang jelas, buku dengan teks yang mudah dipahami, hingga buku yang menggunakan huruf braille untuk anak-anak tuna netra. Selain itu, perpustakaan tersebut juga menyediakan materi edukasi yang dapat merangsang perkembangan kognitif dan emosional anak-anak dengan berbagai jenis disabilitas.


Selama kunjungan, mahasiswa IPII berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pengelola perpustakaan dan para tenaga pendidik di SLBN Center Payakumbuh. Dalam diskusi yang berlangsung hangat, mahasiswa memperoleh wawasan lebih dalam mengenai tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan perpustakaan inklusif, seperti keterbatasan sumber daya, koleksi bahan bacaan yang terbatas, hingga pentingnya pelatihan bagi staf perpustakaan dan tenaga pengajar untuk memahami cara-cara terbaik dalam melayani anak-anak dengan kebutuhan khusus. Diskusi tersebut membuka banyak perspektif baru bagi mahasiswa dalam melihat bagaimana perpustakaan dapat berfungsi sebagai sarana pemberdayaan dan pendidikan yang tidak hanya inklusif secara fisik, tetapi juga dalam pendekatan dan konten.

Salah satu fokus utama dalam diskusi adalah pentingnya peningkatan kerjasama antara perpustakaan sekolah dengan berbagai pihak, seperti lembaga pendidikan lain, organisasi sosial, dan pemerintah daerah, guna memastikan ketersediaan sumber daya yang mencukupi serta akses yang lebih luas bagi anak-anak dengan disabilitas. Mahasiswa IPII juga berdiskusi tentang bagaimana konsep perpustakaan inklusif ini dapat diterapkan secara lebih luas di sekolah-sekolah lain yang memiliki anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Dengan berkunjung langsung ke SLBN Center Payakumbuh, mahasiswa IPII mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana perpustakaan dapat berperan lebih aktif dalam mendukung anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk berkembang secara optimal, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sosial dan emosional mereka. Mahasiswa juga belajar bahwa perpustakaan inklusif membutuhkan perhatian khusus dalam hal desain ruang, koleksi bahan bacaan, serta penyediaan fasilitas pendukung yang memadai agar semua anak dapat mengakses informasi tanpa hambatan.

Kegiatan studi kunjungan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang luas, tidak hanya untuk mahasiswa, tetapi juga bagi perkembangan perpustakaan di Indonesia, khususnya yang berbasis inklusif. Mahasiswa IPII berharap untuk lebih aktif dalam mempromosikan dan mengembangkan konsep perpustakaan inklusif ini di berbagai sekolah, baik di tingkat lokal maupun nasional. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk berkontribusi dalam merancang layanan perpustakaan yang lebih baik, lebih ramah, dan lebih inklusif bagi semua anak, tanpa terkecuali.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa IPII semakin menyadari bahwa pendidikan yang inklusif tidak hanya berbicara tentang akses ke sekolah, tetapi juga akses yang setara terhadap informasi dan pengetahuan yang dapat diperoleh melalui perpustakaan. Ke depan, diharapkan semakin banyak perpustakaan di sekolah-sekolah inklusif yang bisa melayani anak-anak dengan disabilitas secara optimal, menciptakan ruang yang aman dan mendukung perkembangan mereka secara menyeluruh.

Dengan adanya kunjungan ini, diharapkan dapat membangkitkan kepedulian masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk terus memperbaiki dan memperluas layanan perpustakaan yang inklusif, serta menjadi inspirasi bagi lebih banyak sekolah di Indonesia untuk menerapkan konsep yang sama. (IN/SW)

TikTok YouTube Instagram Facebook